Bocah 2,5 Tahun Penghafal Alquran

Bisa Betulkan Bacaan yang Salah dan Tunjukkan Ayat yang Dibaca

76
BOCAH PENGHAFAL ALQURAN. Ahmad Hafidz bocah 2,5 tahun menunjukkan letak salah satu surah Alquran di kediamannya di Desa Bonde, Kecamatan Campalagian, Polman, Sulbar, Minggu, 18 Februari. (EDWARD/FAJAR)

Usianya luar biasa belia. Baru 2,5 tahun, Ahmad Hafidz sudah menghafal juz 30 Alquran. Kekeliruan membaca setiap ayat pun dikoreksinya dengan cara yang lucu.

EDWARD ADE SAPUTRA,  Polman

eQuator.co.id – Ahmad Hafidz, asyik menikmati permen saat ayahnya, Umar Yusuf (40) membaca Alquran di sampingnya. Sesekali, bocah 2,5 tahun itu menunjukkan permennya kepada sang ayah.

Tiga saudara lainnya juga berada di dekatnya saat FAJAR (Jawa Pos Group) menyambangi kediaman pasangan Yusuf dan Kismawati (37) itu, Minggu (18/2). Ahmad Hafidz menjadi perbincangan masyarakat di kampungnya di Desa Bonde, Kecamatan Campalagian, Polman, Sulawesi Barat (Sulbar). Itu karena kemampuannya menghafal Alquran, utamanya juz 30.

Meski usianya baru 2,5 tahun, hafalannya sangat kuat. Saat menikmati permen, Hafidz tidak fokus menyimak bacaan ayahnya. Namun, dia mampu menunjukkan surah yang sedang dibaca ayahnya pada Alquran yang berada di depannya.

Dia lalu membolak-balik lembaran Alquran ketika mendengar bacaan ayat lain dari ayahnya. Serta merta, dia juga menyebutkan nama surah bacaan tersebut.

Antusiasme Hafidz belajar membaca ayat Alquran sangat besar. Ketika melihat kakaknya, Siti Marwa, belajar atau sedang diuji hafalannya oleh sang ayah, dia juga langsung duduk di samping. Alquran bersampul warna merah kesukaannya juga sudah diletakkan di depan.

Tidak jarang, Hafidz langsung memotong bacaan kakaknya ketika salah menyebutkan ayat-ayat Alquran. “Salah itu salah,” begitu perkataan yang terlontar dari bibir mungilnya.

Setelah itu, Hafidz menyebutkan bacaan yang benar, meski dengan penyebutan yang tidak jelas. Dia belum fasih berbicara.

Umar Yusuf menceritakan kemampuan anaknya yang tidak sengaja diketahuinya. Dia mengetahuinya ketika menguji hafalan anak pertamanya. Terdapat penyebutan kata yang salah, lalu Hafidz teriak salah dan menyebutkan kata yang benar.

“Kejadian tersebut pada pertengahan 2017. Saya langsung kaget dan mencoba dengan ayat lainnya dan semuanya benar. Tidak jarang dia membuat kami tertawa karena penyebutannya unik. Dia belum terlalu fasih bicara,” kata Yusuf.

Guru di Pondok Pesantren Nurul Quran Paccini ini menuturkan, sejak kecil Hafidz memang telah memperlihatkan ketertarikannya pada Alquran. Hafidz selalu fokus dan suka jika mendengar lantunan ayat suci Alquran. Itu yang membuatnya selalu ikut ketika ayahnya mengajar di pondok pesantren atau TPA.

“Untuk juz ke-29 masih penunjukan surah-surah saja. Belum sampai pada sambungan ayat. Tapi kalau melihat perkembangannya, tidak lama lagi dia juga akan menghafalnya,” tuturnya.

Yusuf menambahkan, Hafidz belajar dengan cara mendengar dan menghafal, sehingga butuh bantuan. “Namanya anak-anak, kadang harus dibujuk dengan hadiah jika diajak belajar. Tapi saya tidak mau terlalu memaksa, jika dia (Hafidz, red) enggan, yah dibiarkan,” bebernya.

Ibu Hafidz, Kismawati menjelaskan, meski telah mengetahui kemampuan anaknya, tetapi tak mau membebaninya dengan hafalan. “Biarkan saja mengalir apa adanya. Saya tidak mau Hafidz telalu dipaksa. Di usianya dia masih butuh bemain, bukan dunia belajar,” ucapnya.

Wati menambahkan, kemampuan anaknya telah terlihat sejak lahir. Ia telah melatih anaknya mendengarkan lantunan ayat suci Alquran.

“Sejak lahir memang telah saya perdengarkan lantunan ayat suci Alquran. Kalau dia menonton film Upin Ipin, saya ganti suaranya dengan suara pengajian,” jelasnya.

Latihan demi latihan sejak kecil memengaruhi kecerdasan Ahmad Hafidz. Kini dia telah menghafal bacaan Alquran, meski baru juz 30. Subhanallah. (FAJAR/JPG)