Bisa Jadi Ikon Baru Budaya Pontianak

Festival Musik Bangun Sahur dan Keriang Bandong

59
BEGAYE. Para peserta tampil dengan berbagai kreasi dan alat bebunyian untuk semarakan Festival Musik Bangun Sahur dan Keriang Bandong di depan Taman Alun Kapuas, Sabtu (18/6) malam Jalan Rahadi Oesman. Iman Santosa-RK

eQuator.co.idPontianak-RK. Malam penghujung Ramadan biasa dikenal juga sebagai malam likuran. Salah satu tradisi di malam likuran di Kota Pontianak dengan menyalakan obor atau lentera yang dikenal dengan istilah Keriang Bandong.

Mencoba menghidupkan kembali tradisi Keriang Bandong, masyarakat Kota Pontianak menggelar Festival Musik Bangun Sahur dan Keriang Bandong di depan Taman Alun Kapuas, Sabtu (17/6) malam Jalan Rahadi Oesman. Ratusan peserta yang terdiri dari majelis taklim, remaja masjid, dan organisasi kepemudaan turut ambil bagian dalam acara tersebut. Mereka telah berkumpul sejak pukul 9 malam dengan berbagai atribut. Tidak lupa mereka membawa obor dalam berbagai bentuk unik.

Wakil Wali Kota Pontianak, Ir. H. Edi Rusdi Kamtono, MM, MT yang membuka kegiatan itu mengapresiasi upaya masyarakat menumbuhkan kembali tradisi lokal yang telah lama hilang. “Alhamdulillah, pada malam ke 23 Ramadan ini kita melaksanakan pawai keriang bandong atau obor,” katanya.

Edi menceritakan, di masa kecil dirinya Keriang Bandong sering dilaksanakan. Tapi tidak pawai, keliling sekitar rumah saja. “Pemkot tetap mengapresiasi aktivitas masyarakat dalam rangka memeriahkan Ramadhan,” ujarnya.

Diharapkan, kegiatan ini bisa mendatangkan manfaat. Kegiatan yang baru pertama kali digelar ini, bahkan bisa menjadi ikon baru budaya Kota Pontianak. “Tentunya kita berharap, adik-adik atau anak-anak bisa terus kreatif dan melahirkan inovasi-inovasi, untuk melahirkan Kota Pontianak yang damai dan Islami,” imbuh Edi.

Senada disampaikan Ketua Persatuan Orang Melayu (POM) Agus Setiadi. Dia juga berharap festival serupa bisa berjalan rutin setiap Ramadan. Ini sebagai upaya menghidupkan kembali budaya Melayu. “Budaya nenek moyang kita yang lama tidak kita tengok, ini baru pertama kali,” pungkasnya.

Karenanya, diharapkan Pemkot Pontianak bisa memberikan dukungan agar kegiatan ini bisa menjadi agenda tahunan. Jangan sampai Kota kata dia, Pontianak kalah dengan Mempawah. Sebab di Mempawah festival serupa peserta mencapai 200 tim. “Acara semacam tidak akan bisa ramai dan semarak jika tak mendapat dukungan dari pemerintah,” lugas Agus.

Belasan tim peserta Festival Musik Bangun Sahur dan Keriang Bandong yang dilepas Edi Kamtono ini melaksanakan karnaval. Rute yang dilewati Jalan Pak Kasih – Jalan Hasanuddin – Jalan H. Rais A. Rahman – Jalan KH Wahid Hasyim – Jalan Johar – Jalan Jenderal Urip. Selanjutnya kembali ke Jalan Rahadi Oesman sebagai titik akhir.

 

Laporan: Iman Santosa

Editor: Arman Hairiadi