Bisa Diakses Melalui Darat dan Sungai

Pemancangan Tiang Pertama Pembangunan RSUD Kubu Raya

17
Peletakan Batu Pertama. Pembangunan gedung RSUD Kubu Raya dimulai dengan peletakan batu pertama oleh Wabup Hermanus, Ketua DPRD Kubu Raya, Bambang Ganefo Putra di Kecamatan Rasau Jaya, Jumat (6/7). Syamsul Arifin/RK.
Peletakan Batu Pertama. Pembangunan gedung RSUD Kubu Raya dimulai dengan peletakan batu pertama oleh Wabup Hermanus, Ketua DPRD Kubu Raya, Bambang Ganefo Putra di Kecamatan Rasau Jaya, Jumat (6/7). Syamsul Arifin/RK.

eQuator.co.id – Dibangun diatas lahan seluas 6 hektar, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kubu Raya memiliki keunggulan dibanding sarana pelayanan kesehatan pada umumnya. Berada di Kecamatan Rasau Jaya, rumah sakit pratama tipe D ini bisa diakses melalui dua jalur, yakni darat dan sungai.

“Statusnya lahannya masih pinjam pakai dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov). 200 meter dari panjang 1.000 meter x 62 meter. Ditambahkan lagi 30 meter ke tepi sungai untuk dermaga. Ini ciri khas RSUD Kubu Raya, bisa diakses dua jalur, darat dan sungai,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kubu Raya, Berli Hamdani ketika acara Pemancangan Tiang Pertama Pembangunan RSUD Kubu Raya, Jumat (6/7).

Direncanakan beroperasi akhir 2018, RSUD akan langsung melayani 4 spesialisasi. Walaupun, kata Berli, RSUD tipe D sebenarnya hanya diwajibkan memiliki satu dokter spesialis. “Nantinya RSUD ini ada 23 ruangan, 50 tempat tidur untuk rawat inap, IGD, rawat jalan, poliklinik, dapur, perkantoran, dan fasilitas lain. Pelayanan kedokteran spesialis wajibnya memang satu, karena kita lebih dari satu sesuai ketersedian, begitu dioperasikan bisa melayani spesialis anak, dalam, bedah, dan kebidanan,” terangnya.

Anggaran untuk membangun RSUD menghabiskan dana sebanyak Rp38 miliar. “Anggaran fisik Rp20 miliar, alkes dan fasilitas lainnya Rp18 miliar. Anggaran ini semua dari Dana Alokasi Khusus Kementerian Kesehatan (Kemenkes),” tuturnya.

Karena itu, dia mengatakan, agar pembangunan RSUD berjalan lancar dan sesuai aturan, maka pemantauan dilakukan secara ketat. “Sejak awal kita sudah melakukan pengawasan melalui Inspektorat. Kemudian, Inspektorat Jendral Kemenkes, BPK, dan TP4D,” katanya.

Bahkan, Dinas Kesehatan Kubu Raya juga menyiapkan tim untuk mengawasi pembangunan RSUD tersebut. “Pengawasan kita, ada konsultan pengawas dan dari dinas ada Tim Monitoring yang mengevaluasi setiap bulan atau paling lambat dua bulan. Tim ini akan menyampaikan progres pembangunan, konsekuensinya, kalau kemajuannya diperkirakan tidak selesai tepat waktu bisa kita cut (hentikan, red) anggaran, bahkan bisa kita lelang kembali,” tutupnya.

Sementara Wakil Bupati Kubu Raya Hermanus mengatakan, pembangunan RSUD Kubu Raya tak lepas dari peran Pemprov Kalimantan Barat. Menurutnya, Pemprov telah memberikan dukungan fasilitasi berkaitan dengan keberadaan lahan rumah sakit. Ia mengungkapkan, lahan memanjang seluas 6 hektar merupakan aset Pemprov dengan sistem pinjam pakai. Karena itu, Pemkab Kubu Raya berterima kasih atas dukungan tersebut. “Ini kerja sama yang baik yang harus terus dibina,” ujarnya.

Hermanus mengungkapkan, pembangunan RSUD juga terealisasi melalui dukungan alokasi penganggaran dari Kemenkes RI.

 

Foto dan Narasi: Syamsul Arifin