Biaya Pemeliharaan AW101 Jauh Lebih Mahal dari Super Puma Family

115

eQuator – Jakarta-RK. Masih ada waktu bagi pemerintah RI untuk memilih helikopter bagi Presiden dan Wapres. Selain melihat aspek keamanan, dari sisi biaya pembelian dan pemeliharaan juga harus diperhatikan.

Direktur Operasi PT Dirgantara Indonesia (PTDI), Arie Wibowo mengungkapkan, ada perbedaan biaya investasi hingga USD 32 juta per pesawat antara EC725 (Super Puma family) dan AW101. Sedangkan dari aspek national industri, Airframe EC725 sudah diproduksi oleh PTDI untuk dan juga untuk negara lain (32 negara).

“Membeli pesawat itu harus dilihat dari aspek pemeliharaan juga, kayak kita beli mobil saja. Kalau AW101 itu pemeliharaannya jauh lebih mahal karena sparepart-nya harus import, sedangkan EC725 lokal jadi lebih murah. Service-nya cukup di hanggar PTDI,” kata Arie kepada JPNN, Kamis (26/11).

Dia menyebutkan, satu unit pesawat EC725 yang dibanderol USD 35 juta, biaya operasi dan maintenance-nya cukup USD 3 ribu per jam. Dengan asumsi umur pesawat (12 ribu jam terbang) USD‎ 36 juta.

“Kalau ditotal biaya pembelian, operasional dan pemeliharaan Super Puma family hanya USD 71 juta saja,” ucapnya.

Bagaimana dengan AW101? Harga pembeliannya USD 55 juta, biaya operasi dan maintenace USD 4 ribu per jam. Asumsi umur pesawat (12 ribu jam terbang) USD 48 juta. Jika ditotal cost-nya USD 103 juta.

“Anda bisa lihat berapa besar perbedaan biaya investasi per pesawatnya USD 32 juta,” sergahnya.

Dari aspek performance, berat pesawat Super Puma family 11 ribu kg, AW101 15.600 kg, berat yang diangkut EC725 5260 kg sedangkan AW101 6 ribu kg.

“Dari sisi berat, kelihatan sekali kalau AW101 lebih‎ berat selisihnya 4.600 kg. Sedangkan daya angkut selisihnya 740 kg. Untuk heli, makin berat armadanya makin boros dia dan kurang lincah,” ulasnya. (jpnn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here