Banjir Sampai 1,5 Meter, 1600 Warga Terancam

265 Rumah di Lubuk Lagak Tenggelam

251
SENYUM PASRAH. Warga Dusun Lubuk Lagak, Desa Lubuk Dagang, Kecamatan Sambas, Daud berjalan setengah berenang menuju awak media yang berkunjung ke dekat kediamannya. Di bibir Daud masih tersungging senyum pasrah meski rumahnya dilahap banjir sampai setinggi semeter, Kamis (11/2) siang. M. Ridho-Rakyat Kalbar
BUAT PANGGAUAN. Salah seorang warga Dusun Lubuk Lagak, Desa Lubuk Dagang, Kecamatan Sambas, membuat panggauan di dekat atap rumahnya yang telah dimasuki air semeter, Kamis (11/2). M. Ridho-Rakyat Kalbar
BUAT PANGGAUAN. Salah seorang warga Dusun Lubuk Lagak, Desa Lubuk Dagang, Kecamatan Sambas, membuat panggauan di dekat atap rumahnya yang telah dimasuki air semeter, Kamis (11/2). M. Ridho-Rakyat Kalbar

eQuator.co.id – Sambas-RK. Hujan deras tiga hari terakhir menyebabkan Sungai Teberau, Sambas, meluap. Alhasil, pemukiman terdekat, Dusun Lubuk Lagak, Desa Lubuk Dagang, Kecamatan Sambas, terendam air hingga lebih dari semeter, Kamis (11/2). Sebanyak 265 rumah warga dari 363 Kepala Keluarga (KK) yang berisi lebih kurang 1.600 jiwa pun waspada dengan ancaman banjir tersebut.

Karena ini peristiwa tahunan, warga setempat sebenarnya sudah bersiap-siap. Mereka membangun panggauan, semacam panggung, untuk menghindari air dan menyimpan barang-barang elektronik di rumah masing-masing. Panggung itu semula disiapkan setinggi 1 hingga 1,5 meter.

Hanya saja, ketika Rakyat Kalbar mendatangi lokasi banjir, sejumlah warga sedang merenovasi panggauan di rumah masing-masing tersebut. Mereka khawatir hujan akan turun lagi dan ketinggian air meningkat.

Seorang warga Dusun Lubuk Lagak, Daud menghampiri sambil tersenyum pasrah. Ia mengatakan, banjir tahun ini terparah. Menurut dia, selain karena air kiriman dari hulu Sungai Sambas dan Bengkayang, banjir disebabkan pendangkalan serta penyempitan Sungai Teberau.

TEMUI WARGA. Kadus Lubuk Lagak, Desa Lubuk Dagang, Kecamatan Sambas, Abdul Muis mengajak wartawan menemui warganya, Dila yang sedang menidurkan bayinya yang demam di panggauan, Kamis (11/2).
TEMUI WARGA. Kadus Lubuk Lagak, Desa Lubuk Dagang, Kecamatan Sambas, Abdul Muis mengajak wartawan menemui warganya, Dila yang sedang menidurkan bayinya yang demam di panggauan, Kamis (11/2).

“Dulu sungai ini sangat luas, dan banjir tidak seperti ini. Di hulu sungai terlihat penyempitan karena tumbuhan, sehingga masyarakat meminta sungai di-jumbo atau diperluas,” tutur pria berumur 58 tahun itu.

Dikunjungi di kediamannya yang juga dimasuki air sekitar setengah meter, Kepala Dusun (Kadus) Lubuk Lagak, Abdul Muis meminta pertolongan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sambas. Menurutnya, Sungai Teberau seharusnya segera dinormalisasi.

“Sudah tiga hari ini kita dilanda banjir, jadi sangat perlu bantuan pemerintah, apalagi persediaan Sembako menipis,” tutur Muis, ditemui di kediamannya. Dari pantauan Rakyat Kalbar, beberapa warga sedang memarut ubi untuk jaga-jaga jika bantuan terlambat menghampiri mereka.

Menurut Muis, dua hari lalu (10/2), Pemkab yang diwakili Camat Sambas, Halibus, telah meninjau dan mendata kondisi sementara. Namun, bantuan tak kunjung datang.

“Kami sangat khawatir, apalagi hari masih mendung, kalau hujan lagi dapat dipastikan banjir meninggi. Kami mohon bantuan kesehatan dan Sembako, karena ada sekitar 130 bayi, Lansia 72 orang, dan sembilan ibu hamil di dusun kami,” papar pria berusia 46 tahun itu.

Keadaan ini diperparah sekitar ratusan hektar kebun karet milik warga tidak bisa ditoreh getahnya. Tentu, warga akan merugi. Dan, jika dalam seminggu ini banjir belum surut, dipastikan penampung getah hilang dibawa arus air.

“Untuk saat ini warga belum mengungsi, karena masih berinisiatif membuat parak (panggauan,red) di dalam rumah. Namun, sekali lagi, kita sangat berharap bantuan dari pemerintah dan donatur,” ulang Muis.

Bayi-bayi yang terdata tersebut kini terpaksa ditidurkan di panggauan. Termasuk cucu dari Abdul Muis. Rakyat Kalbar sempat bertemu Astuti, putrinya, yang sedang berusaha menidurkan anaknya yang baru berusia tiga bulan.

“Kami sangat berharap bantuan kesehatan untuk bayi dan ibu, karena kami tidak bisa berbuat apa-apa, kami hanya bertahan di kursi sebagai tempat tidur sementara, ” kata Astuti, yang masih menyusui anaknya ini.

Ia juga mengaku malam hari dinginnya luar biasa dan bernyamuk. Bantuan selimut plus kelambu selain obat-obatan dan Sembako sangat dinanti. “Sejak banjir, nyamuknya banyak, yang saya khawatirkan adalah kesehatan anak saya. Beruntung saya tinggal di rumah orang tua, sehingga ramai yang memperhatikannya, ” ungkap Astuti.

Abdul Muis kemudian mengajak awak koran ini ke kediaman warganya. Dila, ibu satu anak, juga tengah menidurkan anaknya yang mulai meriang. “Biasanya banjir tidak separah ini, kalau sekarang sangat parah dan panjang. Untuk jalan warga ketinggian air mencapai 1,5 meter, sedangkan di dalam rumah sekitar setengah meter,” tuturnya.

Terpisah, Bupati Sambas Juliarti Djuhardi Alwi yang dihubungi koran ini sedang rapat penanggulangan bencana di ruang Asisten II Kantor Bupati Sambas. “Kita telah membuka Pos Penanggulangan Bencana dan membentuk Tim Penanggulangan Bencana dengan melibatkan instansi terkait. Juga sudah mengintruksikan agar camat siaga serta melaporkan setiap banjir yang terjadi di wilayahnya,” tuturnya.

Penanggulangan banjir itu dilakukan sesuai SOP. Ia pun meminta camat-camat aktif berkoordinasi dengan Pemkab melalui Posko Penanggulangan Bencana sehingga bantuan bisa disalurkan ke masing-masing lokasi sesuai kebutuhan. “Kalau sudah perlu dievakuasi, maka para camat sudah menyiapkan warganya,” demikian Juliarti.

Selepas Magrib, hujan deras kembali turun. Informasi dari warga dusun, ketinggian air hampir mencapai dua meter.

Laporan: Muhammad Ridho

Editor: Mohamad iQbaL