Banda: The Dark Forgotten Trail

Lusa Tayang di 40 Bioskop

25

eQuator.co.id – Kamis (3/8) mendatang, sebanyak 40 bioskop akan menayangkan film Banda: The Dark Forgotten Trail. Melibatkan Reza Rahardian sebagai narator, film dokumenter ini mencoba membuka kembali sejarah kedatangan pelaut Eropa di Banda.

Film produksi Lifelike Pictures ini diproduseri Sheila Timothy dan Abduh Aziz, naskah Banda ditulis oleh Irfan Ramli dan disutradarai oleh Jay Subyakto. “Saya sebenarnya memaksa terlibat pada Mas Jay. Kita pertama kali bertemu pas sama-sama terlibat FFI. Terus nggak lama dia bilang mau ke Banda,” kata Reza.

Ternyata ‘pemaksaan’ yang dilakukan pemeran film Critical Eleven ini membuahkan hasil. Seperti dikutip dari Kapanlagi, Reza mendapat peran sebagai narator. “Ini pengalaman pertama buat saya jadi narator. Sebagai pengalaman baru, harus bisa menjiwai. Karena saya berbicara dengan gambar. Membuat bagaimana caranya dari awal penonton tidak bosan. Tapi seru. Saya menikmati prosesnya,” pungkasnya.

Film ini mengungkap tentang Banda Neira. Sebuah pulau yang berada di Kepulauan Banda, Maluku, Indonesia. Kepulauan Banda ini memiliki peran penting dalam sejarah jalur rempah dunia. Dulunya seperti dilansir dari laman Kumparan, kepulauan tersebut menjadi kawasan paling diburu karena memiliki sumber daya rempah berjenis pala, yang kala itu harganya jauh lebih mahal dibandingkan emas. Kepulauan Banda pernah diperebutkan oleh Belanda dan Inggris, yang mengakibatkan banyaknya pertumpahan darah.

Namun kini, itu semua tinggal sejarah. Kepulauan Banda saat ini begitu sepi, dan tak terjamah. Bahkan seakan-akan menghilang dari peta dunia. Padahal, kepulauan tersebut pernah menjadi kawasan terpenting pada masanya.

Sejarah yang terlupakan tentang Kepulauan Banda itu yang pada akhirnya membuat produser Sheila Timothy bersama Lifelike Pictures terinspirasi untuk menciptakan sebuah film dokumenter tentang sejarah Kepulauan Banda, komoditi pala, dan kondisinya saat ini.

Sebuah ide yang terkesan gila, mengingat tak banyak orang Indonesia yang tertarik dengan film dokumenter, yang terkesan berat dan membosankan. Namun tentunya, perempuan yang kerap disapa Lala tersebut memiliki alasan tersendiri mengapa akhirnya mengangkat Kepulauan Banda menjadi sebuah film dokumenter. “Ide pertama lahir pas saya dan suami datang ke sebuah ekshibisi tentang jalur rempah. Terus terang saya waktu itu belum paham dan belum tahu apa jalur rempah. Tapi kemudian saya berpikir ini akan jadi sesuatu yang menarik,” ungkapnya.

“Kalau jalur sutra sudah menjadi propaganda dari pemerintahan China, kita tahu  bahkan film Jackie Chan bercerita tentang silk route. Sementara kita, seolah-olah masih gelap tentang jalur rempah ini. Akhirnya saya dan Lucky (suami) berpikir karena punya company film, kita memutuskan bikin film,” lanjutnya.

Lala sendiri memilih menjadikannya sebagai film documenter, karena sejarah di dalamnya cukup banyak dan menarik, sehingga jika dijadikan sebuah film fiksi, akan banyak informasi yang tidak tersampaikan.

Tujuan Lala membuat film tentang Kepulauan Banda adalah supaya masyarakat Indonesia bisa mengetahui sejarah dibalik kawasan tersebut, dan bisa bangga terhadap negaranya sendiri.

Tak hanya dibuat menjadi sebuah film dokumenter, namun kisah tentang Kepulauan Banda ini juga akan dibuat menjadi sebuah komik. Lala berkolaborasi dengan Kosmik.id yang akan menjadikannya sebuah cerita dalam bentuk komik.

“Kami sadar film dokumenter tidak begitu komersil, maka kami butuh banyak pihak yang bantu. Salah satunya adalah Kosmik. Mereka komikus muda yang kreatif dan terpikir membuat medium lain dari film ini.”

“Idenya sih seperti kind of IP (Intelectual Property), sebuah film yang mempunyai cakupan cukup banyak sehingga isu ini bisa dinikmati seluruh kalangan dari anak kecil sampai orang dewasa. Inginnya sih film ini jadi corong sehingga ada perbaikan selanjutnya baik untuk sejarah maupun masyarakat Banda,” terang Lala.

Film dokumenter ini menjadi debut pertama Jay Subyakto sebagai seorang sutradara. Awalnya, pria berusia 56 tahun tersebut sempat takut ketika diminta untuk menggarap film ini. “Tahun 2016, saya diminta untuk membuat film pertama dan itu langsung dokumenter. Dari situ saya takut. Tapi saya pikir, siapa lagi yang mau nawarin seperti ini? Dan hampir dibilang sangat sedikit film dokumenter bisa tembus bioskop, kan,” ujar Jay.

“Mereka (masyarakat) banyak yang mencibir, ‘Oh, film kayak gini enggak perlu ditonton’. Itu yang bikin saya semangat dan akhirnya mau melakukannya. Tapi saya bilang ke Lala, jangan lihat referensi film dokumenter yang pernah dibuat. Biarkan saya bikin suatu bentuk baru yang harusnya nanti membuat film dokumenter itu menarik untuk dilihat,” lanjutnya. (kp/km)