Bale, Sudah Kadaluarsa 1-2 Tahun!

Massal, 87 Anak Keracunan Coklat

308
KERACUNAN. Korban keracunan yang semuanya murid SD 10, Desa Sungai Nipah, Kabupaten Mempawah, terkapar di Puskesmas Siantan, Jungkat, akibat keracunan coklat kadaluarsa, Selasa (1/3). IST

keracunan-makanan-2Mempawah-RK. Celaka! Tak kurang dari 87 anak SD 10, Desa Sungai Nipah, Kabupaten Mempawah, terkapar di Puskesmas Siantan, Jungkat, akibat keracunan coklat kadaluarsa, Selasa (1/3).

Beberapa diantara pelajar itu menderita cukup parah lantaran menyantap coklat kadaluarsa merk Dairy Milk, Silver Queen dan biskuit Oreo. Penganan kesukaan anak itu dipastikan kadaluarsa. Masih diteliti apakah barang illegal dari Malaysia

yang ditampung di sebuah gudang.

Kepala Sekolah SDN 10 Sungai Nipah, Ridwan, menjelaskan kejadian ketika waktu istirahat pertama sekolah sekitar pukul, 09.00. Para siswa membeli cokelat yang sudah kadaluarsa (expired) secara berjamaah alias ramai-ramai.

“Informasi yang saya dapat, cokelat itu tidak banyak. Namanya juga anak-anak, makannya secara beramai-ramai,” tutur Ridwan menjawab Rakyat Kalbar via seluler, kemarin.

Ridwan yang saat kejadian tidak berada di sekolah menuturkan, rata-rata yang menjadi korban siswa kelas 3,4,5 dan 6. Tapi terbanyak siswa kelas 4 yang keracunan.

Saking membludaknya siswa yang keracunan massal, para perawat di Puskesmas Siantan kewalahan. Puskesmas tak mampu menampung para siswa yang terkulai lemah itu. Sampai-sampai mereka harus digeletakkan untuk dirawat di pelataran Puskesmas.

Ridwan yang tengah Rapat UPTD di Siantan, selang setengah jam dilaporkan anak-anak keracunan di sekolah, dijemput pulang ke kantornya. Menurut Ridwan, puluhan siswa yang malang itu mendapatkan coklat-coklat dari siswa lainnya yang membawanya ke sekolah.

Pihak sekolah sudah menyerahkan barang bukti berupaya cokelat yang tersisa yang akan diperiksa  di Puskesmas. Ridwan enggan mengatakan apakah coklat tersebut produk Malaysia yang masuk secara illegal dan setelah kadaluarsa akan dibuang ke tempat pembakaran.

“Sejak saya menjadi kepala sekolah dari 2012 tidak pernah kejadian, musibah tidak bisa ditolak. Saya sebenarnya mewanti-wanti jajanan kepada kantin sekolah,” katanya.

Jamilah, salah seorang Guru SDN 10 Sungai Nipah, mengatakan kejadian tersebut berawal ketika anak-anak sedang istirahat dan membeli coklat. “Mereka membeli coklat dengan harga seribu hingga Rp3 ribu,” tutur wali kelas di SDN 10 itu.

Tak dirinci siapa yang menjual coklat murah meriah yang menggoda selera anak-anak itu. Tapi dikabarkan beasal dari sebuah gudang makanan kemasan di kawasan Siantan. Usai makan cokelat, lanjut Jamilah, beberapa anak mendapatkan reaksi mulai dari sakit perut, kepala pusing hingga ada yang muntah seketika. “Pada saat itu pula kita langsung mengantar mereka ke Puskesmas,” katanya.

Setelah mengantar para siswa yang keracunan, Jamilah mencari tahu siapa penjual cokelat itu, kenapa bisa seramai itu yang tiba-tiba mual, pusing dan muntah-muntah.

Kepala Puskesmas Siantan, Sri Lestari, menyatakan semua perawat Puskesmas dikerahkan melakukan pertolongan pertama untuk penyelamatan. “Pada saat itu kita berikan infus dan oksigen. Untuk penanganan awalnya mereka langsung di tangani oleh dokter yang bertugas,” jelasnya.

Sri Lestari mengaku kewalahan, karena jumlah siswa yang banyak sedangkan tempat tidur Puskesmas hanya sepuluhan saja. Terpaksa melakukan perawatan tanpa tempat tidur. “Makanya, mereka ada yang di pelataran ruangan Puskesmas, karena kurangnya tempat,” katanya.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mempawah, Armini, kepada Rakyat Kalbar mengatakan, masih mendalami kasus keracunan makanan tersebut. “Kita melihat dari masa kadaluarsanya cokelat sudah lewat lama yaitu 2014-2015 lalu dalam arti kata sudah expired 1-2 tahun lalu,” ungkapnya.

Dia menginstruksikan jajarannya untuk melakukan tindakan pengobatan secara keseluruhan dan untuk biaya pengobatan ditanggung oleh Pemkab. “Yang terpenting para siswa diselamatkan dulu, dan terlihat sudah ada yang pulang dan sebagian masih dirawat inap di Puskesmas,” ujarnya.

Seoran

Sementag siswi, Lia, 11, mengatakan beli cokelat dari teman-temannya yang di sekolah dan semua ikut makan. “Dikasih cokelat sama teman, dan makan ramai-ramai. Yang ngasi cokelat sih sikit, abisnye makan ramai-ramai,” kata Lia.

Dia tak mengetahui kalau cokelat itu sudah tidak bisa dikonsumsi, karena teman-temannya ramai yang makan dirinya pun turut serta makan. “Teman-teman ramai-ramai makan, ikut gaklah makannye,” kata Lia, “kami makan cokelat itu sekitar jam tujuh, tak lama perut saya sakit.”

Rakyat Kalbar coba konfirmasi Kapolres Mempawah, AKBP, Suharjimantoro,S.Ik melalu pesan pribadi dan telepon, ke nomor 081341688xxx, tidak juga dijawab sampai tadi malam. Banyak dugaan kalau coklat tersebut produk Malaysia yang disimpan di gudang milik seorang pengusaha.

Status Gudang

Sementara itu di Pontianak Kapolda Brigjen Pol Arief Sulystianto, baru menerima laporan sementara dan belum ada kejelasan perusahaan apa yang “menumpuk” coklat kadaluarsa hingga 2 tahun itu.

“Berdasarkan hasil penyelidikan dan keterangan yang didapat, anak-anak yang keracunan didugat kuat karena mengkonsumsi makanan yang sudah kadaluwarsa,” jelas Kapolda Brigjen Pol Arief Sulystianto, kepada sejumlah wartawan, Selasa (1/3).

“Kita langsung turun ke TKP, menolong, membawa dan mendata korban ke racunan yang belum dibawa ke Puskesmas,” katanya.

Langkah Kapolda, melakukan olah TKP di tempat pembakaran makanan kadaluwarsa, dari tempat itulah anak-anak mengambil coklat berbagai merk yang sudah kadarluasa dan dikonsumsi. “Di TKP, terlihat memang ditemukan sisa pembakaran/makanan yang belum habis terbakar,” ungkapnya.

Pihaknya mengambil sampel makan sisa yang belum sempat habis dimakan serta sampel muntahan korban yang selanjutkan dibawa ke Balai POM Pontianak untuk dilakukan uji laboratorium.

Ditambahkan Kapolda, pihaknya juga melakukan interograsi terhadap penjaga dan pemilik gudang terkait legalitas gudang tersebut, SOP pengamanan/pemusnahanan makanan kadarluasa.

“Untuk para korban juga kita lakukan introgasi, guna mengetahui asal usul dari mana mendapatkan makanan,” tambahnya. Polda akan berkoordinasi dengan BPPOM dan instansi terkait untuk proses penyelidikan.

Laporan: Arisandi dan Achmad Mundzirin

Editor: Hamka Saptono

Kronologi

  1. Para siswa beli coklat dairy milk dari seseorang, berasal dari sebuah gudang. Siapa penjual belum jelas, Kapolres Mempawah belum jawab konfirmasi.
  2. Anak-anak makan coklat pukul 07.00, dua-tiga jam kemudian bereaksi pusing, mual, mules dan muntah. Dilarikan ke Puskesmas Siantan, Jungkat.
  3. Kapuskesmas Siantan, Sri Lestari, kewalahan saking banyaknya yang keracunan. Dirawat hingga selasar Puskesmas karena hanya ada 10 bed.
  4. Kapolda akan mengusut sumber coklat dan gudang penyimpanan serta SOP-nya.