Bakus Minta ‘Air Kehidupan’ ke Ustad

368
NGOBROL DI SINI. Di teras Surau Darul Falah, Gang Darul Falah, Desa Paal, Kecamatan Nanga Pinoh inilah tempat Ustad Ali Murtadi berbicara dengan Petrus Bakus setelah kejadian mutilasi Febian dan Amora. Gambar diambil Rabu (2/3). Dedi Irawan

Nanga Pinoh-RK. Ustad Ali Murtado sempat ngobrol dengan pelaku pembunuhan anak-anak kandungnya sendiri, Brigadir Petrus Bakus, melancarkan aksinya pada Jumat (26/2) dinihari lalu. Waktu itu, Ali sedang berada di seberang tempat kejadian perkara (TKP) mutilasi Fabian dan Amora tersebut, di Asrama Polres Melawi, Gang Darul Falah, Desa Paal, Kecamatan Nanga Pinoh.

“Saya waktu itu di Surau Darul Falah yang berada di depan rumah pelaku. Setelah kejadian, pelaku (Petrus Bakus,red) dibawa Kasat Intel Pak Kamil dan Kapolsek Menukung Pak Sofian. Terus pelaku duduk bersama saya di teras surau,” kata Ali ketika ditemui di Surau Darul Falah, Nanga Pinoh, Rabu (2/3).

Bakus sempat bicara dengan Ali. Ia meminta dipakaikan jubah putih dan dimandikan. “Saya juga heran kenapa dia ngomong begitu. Karena saya kan tidak tau awalnya bahwa dia sudah membunuh anaknya,” beber Ali.

Ustad yang bingung dengan permintaan Bakus itu memberikan air mineral kemasan. Namun, Bakus menolak. Kemudian, Ali kembali memberikan satu keranjang air mineral kemasan, tapi Bakus membuangnya ke tempat sampah.

“Pelaku mintanya air yang tidak ada merknya, air kehidupan kata dia. Lalu, saya pun mengambilkan air dalam wadah teko dan gelas, dia langsung meminumnya. Saat itu, dia hanya mengenakan handuk tanpa baju. Saya kira dia hanya bertengkar biasa dengan istrinya,” ungkap Ali.

Dan, terkejut lah Ali ketika akhirnya mengetahui Petrus Bakus telah membunuh anaknya. “Saya baru tau saat Si Bekti (anggota Intel Polres Melawi,red) yang ngasi tau. Saya kaget, kalau saya tau dari awal saya juga takut ngobrol,” ucapnya.

Menurut dia, tidak ada yang aneh dengan perilaku pelaku pembunuhan sadis itu sebelum kejadian. Bahkan, ia menilai Bakus ramah dalam bertetangga. Kerap bertegur sapa. Bakus juga sering menemani anaknya, ketika mereka bermain sepeda di dekat rumah Ali.

“Kalau kita lewat depan rumahnya pasti menegur. Kepada anaknya juga saya perhatikan sangat sayang, tidak pernah saya mendengar dia marah kepada anaknya, apalagi memukul. Makanya saya kaget, kok bisa dia membunuh anaknya,” ulas Ali.

Laporan: Dedi Irawan

Editor: Mohamad iQbaL