Bacok Mantan Istri Tusuk Perut Sendiri

566
INDENTIFIKASI. Tim identifikasi Polresta Pontianak melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) pembacokan, Selasa (12/1). Polisi menemukan cangkul dan parang yang digunakan Pak De untuk menghabisi mantan istrinya. OCSYA ADE CP

eQuator – Pontianak-RK. Pagi-pagi buta, Selasa (12/1), warga Jalan Karakterdes, Kelurahan Siantan Hulu, Pontianak Utara dikejutkan dengan ditemukannya laki-laki dan perempuan terkapar bersimbah darah di kebun sayur.

Awalnya warga menduga keduanya adalah korban pembunuhan. Ramai-ramai mereka mencari bantuan menyelematkan pria dan wanita bersimbah darah itu, kemudian melapor ke Polsek Pontianak Utara.

Polisi mendatangi lokasi kejadian, mendapatkan kedua orang ini masih bernyawa dengan kondisi sekarat. Setelah diidentifikasi dan diselidiki, rupanya keduanya mantan suami istri asal Jalan Karakterdes yang diduga nekat membunuh dan bunuh diri. Kedua korban dibawa ke Rumah Sakit Anton Soedjarwo Bhayangkara Polda Kalbar (Dokkes), menggunakan kendaraan yang melintas.

Usut punya usut, rupanya kedua korban itu adalah Minanten, 42, dan Pak De, 46, pasangan suami istri (Pasutri) yang telah bercerai. “Dari hasil penyelidikan, diketahui kedua korban tersebut sebelum ditemukan dalam kondisi kritis, mereka saling cekcok hingga terjadi pembacokan yang dilakukan Pak De,” kata AKP Ridwan Maliki, Kapolsek Pontianak Utara, kemarin.

Dikatakan AKP Ridwan, Minanten menderita luka bacok di leher, perut sebelah kanan dan tangan. Sedangkan Pak De menderita luka robek di perut hingga ususnya keluar.

“Pak De sempat mengaku mau membunuh mantan istrinya itu, kemudian ia berusaha bunuh diri dengan cara menusukkan pisau ke perutnya sendiri,” ungkap Kapolsek Ridwan.

Hingga saat ini kedua korban masih dalam kondisi kritis di Dokkes. Polisi juga belum mendapatkan keterangan yang akurat dari Pak De dan Minanten, apa penyebab dari aksi pembacokan dan percobaan bunuh diri ini. Informasi sementara yang didapat polisi, hanya berasal dari tetangga dan keluarga korban. Sayangnya awak media ditolak pihak keluarga ketika hendak diwawancarai. (oxa)