Alamak, Atlet Percasi Kalah di Pra PON, Keok di Kejurnas

503
Kejurnas Percasi. Atlet Percasi saat bertanding dalam Kejurnas Percasi di Jakarta, 29 Oktober sampai 4 November 2015. ISTIMEWA /RK

eQuator –  Setelah kekalahan pada Prakualifikasi PON pada Agustus lalu di Samarinda. Kini pil pahit kembali harus ditelan Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) Kalbar.

Pasalnya pada Kejuaraan Nasional (Kejurnas) catur yang digelar di Jakarta pada 29 Oktober sampai 4 November 2015, tidak satupun dari 17 atlet yang dikirim meraih medali.

“Dari 17 orang yang kita kirim, tidak ada yang dapat medali,” keluh Sekretaris Umum Percasi Kalbar, Syawal, Kamis (5/11).

Kejurnas catur ini sebelumnya mempertandingkan sebanyak 10 kelas, dengan diikuti oleh sebanyak 32 provinsi se-Indonesia. Syawal mengatakan, kekalahannya kali ini karena para atletnya hanya kurang beruntung saja.

“Sebenarnya ini faktor luck (keberuntungan, red) juga. Nasib kita sedang tidak bagus. Karena kalau dilihat dari permainan kita kurang lebih sama, persiapan juga maksimal, ada kejurda serta open turnamen untuk persiapan kejurnas. Bahkan ada beberapa atlet yang sudah nyaris mendapat medali perak, tapi gagal,” katanya.

Syawal mengakui, banyak dari para atlet yang dikirim Percasi Kalbar untuk mengikuti pertandingan, namun lemah pada sesi finishing. Sehingga para atlet catur Kalbar kerap terlena dan memanfaatkan serangan balik untuk menang.

“Mental, saya kira cukup. Untuk teknis tidak kurang, cuman itu tadi, luck yang tidak kita punya,” paparnya.

Namun dari sisi ini, Syawal berharap para atlet catur Kalbar dapat mengambil pelajaran penting. Sembari Pengprov Percasi juga mempertebal kejuaraan-kejuaraan untuk melengkapi jam terbang para atlet.

“Untuk tingkat junior, umur 10-19 tahun kita siap. Kendalanya memang pertama, kompetisi yang kurang. Karena faktor minimnya dana. Karena kejuaraan-kejuaraan yang dilakukan dananya dari Pengprov semua. Sebagian juga ada dari orangtua dan atlet. Karena KONI kan jelas tidak selalu membantu setiap ada kegiatan,” bebernya.

Sementara, menurut Syawal, idealnya kejuaraan catur harus rutin dilaksanakan minimal dalam satu atau dua bulan sekali. Namun yang ada, kejuaraan tingkat lokal hanya baru bisa terselenggara empat sampai lima kali saja dalam setahun. Kondisi tersebut karena minimnya dana.

“Maka dari itu, kita tetap berupaya menggandeng pihak-pihak lain dalam penyelenggaraan catur, seperti kejuaraan dengan UPB kemarin. Kemudian kita juga menggandeng Untan melalui kejuaraan ECC oleh Fakultas Ekonomi. Tahun ini sudah masuk tahun yang kelima. Di luar dari sektor bisnis (perusahaan), kita gabung dengan universitas-universitas, Pengprov juga mensupport,” ulasnya.

Reporter: Fikri Akbar

Redaktur: Andry Soe

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here