Akibat Hasutan, Disiksa Hingga Pendarahan

Derita Penoreh Getah yang Statusnya Digantung Suami (Bagian 2)

215
BEKAS PENGANIAYAAN. Didampingi petugas polisi yang tersentuh dengan penderitaannya, Asri Emeliyani menunjukkan bukti lebam di tubuhnya yang diduga akibat penganiayaan Sang Suami, Leben, di Komplek Aloevera, Pontianak Utara, Senin (21/12). OCSYA ADE CP

Ocsya Ade CP, Pontianak

 

eQuator – Beberapa tahun silam, keluarga Leben dan Asri Emeliyani pernah hidup bahagia meski suami istri ini tinggal di tempat berbeda. Asri menetap di Simpang Dua, Ketapang, bersama tiga anaknya. Leben bermukim di pondok Kampung Lombak, Toba, Sanggau. Di batas Ketapang-Sanggau itu, Leben menambang emas.

Kala itu, Leben sering mengirim uang ke Asri. Asri pun sesekali mendatangi Leben di Lombak. Namun, hubungan mereka mulai diwarnai kekerasan setelah kehadiran Mulyani dalam keluarga sederhana tersebut.

Senin 21 Desember 2015, setelah dilepaskan Polsek Pontianak Utara, Asri masih sempat bertahan di rumah keluarganya di Komplek Aloevera, Jalan 28 Oktober. Wajahnya sedikit ragu ketika kembali menerima dua polisi dari Polsek Pontianak Utara dan Rakyat Kalbar.

Rambutnya basah. Ia baru saja usai mandi menghilangkan kegerahan dan kepenatan setelah diperiksa polisi, akibat perbuatannya menyiram cuka getah ke Leben dan Mulyani. Di ruang tengah rumah keluarganya itu, sambil menimang Si Bungsu Geri yang baru berusia dua tahun, Asri menceritakan semua yang dialaminya.

Lebih dari setahun lalu, Leben dengan nama lengkap Kasianus Itas mengenal Marhawi dan Mulyani. Mereka suami istri asal Siantan yang tinggal bersebelahan dengan pondok Leben.

Waktu terus berlalu, tanpa disadari, Leben diam-diam menjalin hubungan dengan Mulyani yang sudah beranak lima. Awalnya, Asri tidak menaruh prasangka apapun. Selama hubungan gelap ini berlangsung, perlakuan Leben kepada Asri dan anak-anaknya masih biasa saja, tidak pernah main tangan (melakukan kekerasan).

Waktu itu, Leben bak seorang suami dan ayah yang bijak, peduli keluarga. Namun, lama kelamaan, Leben mulai jarang pulang ke rumahnya, menetap di pondok terus. Asri pun mulai curiga pasangan hidupnya bermain hati.

Malapetaka dalam rumah tangga itu terjadi saat perut Asri tengah berisi. April 2014, Asri dinyatakan hamil anak keempat Leben. Mungkin, pikiran Leben tengah kacau saat itu. Di satu sisi, istrinya tengah hamil. Di sisi lain, dia tengah membagi hatinya kepada Mulyani.

“Perempuan itu sering menghasut suami saya. Dia bilang anak yang saya kandung bukan anak suami saya. Tapi saya cukup sabar. Tidak marah,” lirih Asri sambil mengusap kepala Geri yang mulai rewel.

Kala itu, Asri pun kerap mendapat SMS aneh dari Mulyani. Asri masih sabar meski akhirnya benar-benar mengerti bahwa Leben telah mendua. Tak pula dia marah. Hingga kehamilannya menginjak usia tujuh bulan.

Tengah hamil tua, derita Asri justru bertambah. Selain didustai suami, ia juga nyaris lumpuh karena kerja kerasnya. Kaki sebelah kanannya tidak berdaya untuk melangkah.

“Saya pergi ke Pontianak untuk berobat atas bantuan uang dari saudara. Selesai, saya langsung pulang. Sampai di rumah Ketapang, malam. Besok paginya saya disiksa suami karena hasutan itu,” kisah Asri.

Rumah sederhana di Simpang Dua tersebut menjadi saksi biksu kekerasan yang dialami Asri. Dia dibanting ke pintu oleh Leben hingga mengalami pendarahan. Dan ditinggal begitu saja.

“Saya belum dibawa ke rumah sakit. Masih cari dana. Darah semakin banyak, seperti banjir. Warga yang menolong saya semua panik,” ucapnya.

Karena warga pada gugup, Asri yang tengah pendarahan didudukkan. Ia pingsan. Asri pun dilarikan rumah sakit terdekat tanpa didampingi suaminya.

“Saya kemudian dirawat di RS Antonius (Pontianak). Eh ternyata suami saya ada di Pontianak rupanya, tapi sama sekali dia tidak mau merawat saya,” ujar Asri, sesekali suaranya tersedu.

Malam ketiga dalam perawatan di RS Antonius itu, Asri didatangi Leben. Senangnya Asri bukan kepalang, di saat sakit akhirnya suami datang.

Namun, alih-alih didampingi, rupanya Leben datang hanya untuk main tangan lagi ketika tak ada orang lain yang menunggui Asri. Menurut Asri, Leben melakukan itu karena lagi-lagi mendapat hasutan dari Mulyani.

Ketika Asri mulai sehat, ia pun keluar dari RS Antonius dan menginap di rumah keluarganya di Komplek Aloevera tersebut. Selang tak berapa lama, ia kembali mengalami pendarahan hebat. Masuk RS Antonius lagi.

Dalam perjalanan menuju RS, pihak keluarga Asri mencoba menghubungi Leben. Selulernya aktif namun tak menjawab panggilan. Berkali-kali dihubungi, barulah telpon diangkat, namun suara Mulyani yang terdengar di ujung sambungan telepon itu.

Setibanya di RS, Asri langsung diberi pertolongan medis di Ruangan Maria, Kelas I, tanpa mengurus administrasi seperti biasanya. Asri berhasil melahirkan bayi keempatnya. Tapi, malang tak bisa ditolak, beberapa menit kemudian bayi keempatnya itu meninggal dunia.

Untuk kedua kalinya Asri di RS Antonius, Leben tak menampakkan batang hidungnya. Semua keluarga Asri di Pontianak bingung mengurus administrasi bayi yang meninggal tersebut. Bayi yang meninggal tidak boleh lama berada di RS.

“Pihak keluarga keliling mencari Leben. Adik saya yang dari Ketapang juga mencari sampai ke Lombak. Ironisnya, Leben ternyata ada di Pontianak,” tutur Asri.

Akhirnya pihak RS memperbolehkan bayi tersebut dibawa pulang tanpa ada persetujuan dari Sang Ayah. Bayi yang baru menghirup udara dunia beberapa menit saja itu dimakamkan di Pontianak.

“Saat penguburan, saya telepon Leben. Dia tak bisa datang. Masih sabar saya,” tukas Asri.

Kesabaran Asri memang luar biasa. Ia masih mau menjaga hubungannya dengan Leben. Dia juga enggan merepotkan familinya. Padahal, salah seorang keluarganya di Pontianak termasuk orang berada. Ada yang jadi duduk di kursi DPRD Kota Pontianak.

Asri memutuskan untuk pulang ke rumahnya di Simpang Dua, Ketapang, tanpa Leben. Di gubuk itu, ia bingung mau makan apa. Tiga anaknya masih kecil, Asri pun belum begitu sehat untuk melanjutkan pekerjaannya sebagai penoreh getah.

“Sedih saya Pak. Syukur masih ada tetangga yang baik. Kami diberi beras, gula, dan bahan makanan lainnya. Malu, seperti apa jak kami ini,” paparnya.

Hanya saja, bantuan makanan dari tetangga itu cuma mampu mengganjal perut mereka beberapa hari saja. Sementara, untuk kebutuhan sekolah Dea (11 tahun) dan Bili (9 tahun) menjadi beban pikiran tersendiri. Asri tak ingin anak-anaknya putus sekolah, tak mau mereka sama seperti dirinya yang berhenti saat masih semester tiga dari Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura. (*/bersambung)