72 Kasus DBD, Tiga Korban Meregang Nyawa

48
ilustrasi. net

eQuator – Nanga Pinoh-RK. Demam berdarah dengue (DBD) kerap menjadi momok menakutkan bagi manusia. Apalagi hingga kini penyakit yang disebabkan nyamuk Aedes aegypti betina itu belum ada penawarnya. Kali ini korbannya warga Desa Mekar Sari, Kecamatan Nanga Pinoh, yang meninggal dunia pada Sabtu (28/11) siang.

“Yang meninggal dunia karena DBD siang tadi, tinggalnya di mess karyawan pabrik di PT Rafi, Kecamatan Belimbing,” ujar Kepala Puskesmas Nanga Pinoh, dr Sien Setiawan, Minggu (29/11).

Dengan demikian, sampai dengan November 2015, jumlah pasien DBD mencapai 72 kasus, tiga diantaranya meninggal dunia. Sedangkan tahun lalu hanya terjadi 43 kasus DBD dengan 2 orang meninggal dunia.

“Berarti ada peningkatan kasus DBD jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya,” ucap Sien.

Sien mengungkapkan, untuk mencegah merebaknya kasus DBD, fogging saja tidak akan cukup. Apalagi di musim penghujan seperti sekarang ini. Pencegahan yang paling efektif adalah memberantas sarang nyamuk. Dengan cara membersihkan lingkungan sekitar tempat tinggal.

“Jujur kenapa kami selalu kampanye agar semua warga kerja bakti bersih-bersih rumah plus halamannya seminggu sekali, karena data memberi bukti bahwa 90 persen penderita DBD di rumahnya selalu ditemukan jentik nyamuk,” ulasnya.

Berdasarkan data survey nyamuk 2014, 70 persen rumah di Nanga Pinoh ada jentik nyamuknya. Bahkan, di halaman Pendopo Bupati Melawi, rumah jabatan Wakil Bupati Melawi pun ditemukan jentik nyamuk. Tak hanya itu saja, di rumah petugas medis pun ternyata ditemukan jentik nyamuk. Bahkan, beberapa anak petugas kesehatan pun terkena DBD.

“Demikian juga di rumah saya, saat sibuk praktek juga lupa bersih-bersih rumah lebih dari dua minggu. Akhirnya ditemukan juga jentik nyamuk di rumah saya. Di bawah kandang jangkrik untuk umpan ikan arwana,” paparnya.

Dia menjelaskan, usia nyamuk jantan hanya dua minggu dan usia nyamuk betina sekitar 4 minggu saja. Satu ekor nyamuk bertelur 100-300 telur dan dalam waktu 8-12 hari telur akan menjadi nyamuk.

“Maka dari itu, jika warga kota tidak mau kerja bakti, tidak mau melaksanakan Jumat bersih maka dalam waktu setiap 10 hari jumlah nyamuk akan bertambah 100-300xlebih banyak. Jika masih tidak mau bersih-bersih maka dalam waktu 20 hari jumlah nyamuk akan berlipat ganda 1×300×300 nyamuk,” bebernya.

Oleh karena itu, jika mau terbebas dari wabah DBD, semua masyarakat harus kompak serentak kerja bakti massal melakukan bersih-bersih melaksanakan pemberantasan sarang nyamuk PSN dengan gerakan 3 M serta penaburan serbuk abate.

Sementara itu, anggota DPRD Kabupaten Melawi, Widiya Rima mengharapkan, dinas terkait bisa segera mengambil langkah kongkret untuk menangani kasus DBD. Karena kasusnya saat ini semakin merebak.

“Terutama di daerah yang endemik harus mendapatkan penanganan serius serta langkah-langkah ini juga perlu dianggarkan, pemerintah harus memikirkan secara serius,” lugasnya.

Bukan hanya daerah yang sudah terkena kasus DBD saja, melainkan dirinya berharap daerah yang belum terkena kasus DBD juga mendapatkan perhatian dan diambil langkah preventif terhadap kemungkinan adanya wabah DBD.

“DBD ini terjadi tidak hanya di satu daerah saja. Bias jadi dibawa dari daerah lain yang kemudian masuk ke daerah tersebut. Dinas terkait juga harus mempunyai informasi jelas terkait masalah ini sehingga ketika ada kasus bisa secara langsung diambil tindakan,” ucapnya.

Tak hanya itu, aparat dan masyarakat juga harus proaktif untuk menyampaikan informasi bahwa gejala DBD saat ini sudah mulai merebak. Dengan demikian masyarakat juga bisa melakukan upaya pencegahan. “Berikan sosialisasi kepada masyarakat berkenaan dengan masalah ini, terutama penanganannya,” paparnya.

 

Reporter: Sukartaji

Redaktur: Andry Soe

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here