24 Jam Bertaruh Nyawa di Sekeping Papan di Tengah Laut

Kisah ABK KM Samudra Jaya I yang Selamat

330
TERBARING LEMAH. Syahminan, Anak Buah Kapal (ABK) Samudera Jaya I mendapat perawatan medis di Rumah Sakit Fatima Ketapang, Selasa (15/12). JAIDI CHANDRA

Jaidi Candra, Ketapang
Mukanya masih pucat, badanya bergetar mengigil. Syahminan pria paruh baya ini adalah Anak Buah Kapal (ABK) Samudera Jaya I yang pecah dihantam ombak dan menghilang di laut.

 

eQuator – Tak disangka nyawa Syahminan selamat. Dia ditemukan mengapung di sekeping papan oleh nelayan. Kondisinya lemah, setelah 24 jam bertaruh nyawa di tengah laut perairan Sukabangun—Ketapang, Selasa (15/12).

“Saat kejadian, saya berada di palka ruang mesin kapal,” cerita Syahminan yang terbaring di bangsal RS Fatima Ketapang.

Syahminan merupakan ABK kapal pengangkut Sembako, KM Samudra Jaya I dihantam ombak setinggi tiga meter di muara perairan Sukabangun—Ketapang, Senin (14/12) pagi.

Kapal rute Pontianak-Ketapang yang hendak sandar di Pelabuhan Sukabangun—Ketapang tersebut pecah dan tenggelam.

Syahminan ditemukan mengapung, berpegangan di sekeping papan sekitar 24 jam lamanya, setelah KM Samudra Jaya I bermuatan sembako pecah di perairan Sukabangun, Senin (15/12). Delapan rekannya diselamatkan Basarnas Ketapang dan nelayan. Syahminan dinyatakan hilang dan diperkirakan sudah tidak bernyawa.

Pria paruh baya ini ditemukan terapung di laut oleh seorang  nelayan dari Desa Sungai Besar, Matan Hilir Selatan—Ketapang, kemarin sekitar pukul 08.00. Nelayan tersebut sedang menarik pukatnya. Setelah diselamatkan, Syahminan dibawa warga ke Rumah Sakit Fatima Ketapang. Kondisinya cukup mengenaskan. Kaki kirinya luka tertusuk paku saat meloncat dari kapal.
“Saat dihempas gelombang dan kapal miring, saya sempat menggunakan baju pelampung. Tidak lama kemudian gelombang pun kembali menghantam kapal. Kami semua yang ada di kapal terhempas dan saya terpisah dari teman-teman,” tuturnya.
Syahminan sempat memegang tali kapal. Namun terlepas lantaran gelombang tinggi yang di perkirakannya mencapai 3-4 meter. Dia terpisah dari teman-temannya dan menemukan papan sepanjang sekitar empat meteran untuk berpegangan.
“Sebelum meloncat ke laut, saya sudah lepas semua pakaian, hanya menggunakan celana dalam dan baju pelampung,” katanya.
Pakaian dilepas, agar tubuh tidak berat saat berenang. Kemudian kaki dan tangannya dilumuri oli kapal yang tumpah, agar saat di laut, ikan tidak mengejar. Sebab kalau tidak diberi oli, kaki dan tangan akan tampak putih di dalam air dan dapat membuat ikan-ikan besar mengejarnya. “Pertama saya mengapung memegang kayu, kemudian baru dapat serpihan papan,” jelas Syahminan.
Syahminan terus menjauh dari lokasi kapalnya tenggelam, karena diterpa gelombang. Tiba-tiba mengapung sekeping papan besar bekas serpihan kapal yang pecah mendekat padanya. Dirinya langsung melepaskan kayu yang awalnya menjadi pegangan, berpindah ke papan tersebut dan menaikinya.
Alhamdulillah saya bilang. Kemudian saya ambil papan dan duduk di atas papan itu. Di atas papan itu kaki saya menjuntai ke air sambil tangan saya mengayuh dari sisi kiri kanan papan,” ceritanya. Syahminan pun sempat berpikir, kalau kawan-kawannya telah meninggal, lantaran hampir 24 jam belum ditemukannya.
Selama hampir 24 jam mengapung di laut, Syahminan mengaku sama sekali tidak merasakan sakit, takut maupun lapar. Walaupun tangan dan kakinya yang terjuntai di air, kerap kali digigit ikan buntal.
“Saya berdoa sebisa saya, tidak ada terasa sakit, lapar pun tidak. Hanya saja haus. Kebetulan hari hujan, jadi sambil mengayuh papan, saya sambil menadahkan mulut ke langit buat minum,” ceritanya.
Selama hampir 24 jam tersebut, Syahminan tidak dapat tidur. Hanya sesekali memejamkan mata dan terbangun, sambil kedua tangannya terus mengayuh papan dan berharap bertemu dengan nelayan atau tim penolong.
Sekitar pukul 08.00 kemarin, Syahminan melihat seorang nelayan sedang narik pukatnya. Dari jauh dia terus berteriak minta tolong. “Ternyata nelayan itu memang sudah melihat saya, kemudian bergegas membantu saya. Saya dibawa naik ke darat,” jelasnya.
Syahminan merupakan warga asli Desa Kauman, Kecamatan Benua Kayong—Ketapang. Namun dia sudah lama menetap dan tinggal di Kota Pontianak. Bahkan dia mengaku sudah empat kali mengalami musibah seperti ini, tenggelam pada saat bekerja di kapal.
“Tiga kali tenggelam di kapal lain. Itu pun tenggelamnya di lautan besar. Seperti di Laut Karimun hampir sepekan saya hilang di laut. Ini kejadian keempat kalinya saya mengapung di laut,” jelas Syahminan.
Menurutnya, ia belum dapat memastikan apakah usai pulih dari kejadian ini, akan kembali bekerja di kapal atau berhenti mengadu nasib di tengah laut.
“Lihat nantilah. Kalau tidak kerja di laut, mau kerja apa lagi. Soalnya saya dari muda sudah kerja di laut,” katanya.
Tetesan Air Mata

Sementara Yunia, 29, beruraian air mata. Dia salah satu keponakan Syahminan yang ditemui Rakyat Kalbar di Rumah Sakit Fatima Ketapang.

“Kami dapat info paman saya tenggelam, dari istrinya di Pontianak. Kami langsung mengecek ke Basarnas, setelah di cek ternyata teman satu kapal paman saya sudah ditemukan, hanya paman saya yang belum ditemukan,” katanya.
Pihak keluarga berusaha mencari Syahminan. Namun hingga malam hari, informasi mengenai keberadaannya belum juga diketahui. Bahkan pihak keluarga yang khawatir dan sedih, sempat berkumpul di rumahnya, kemudian membacakan doa dan Surah Yasin, agar Syahminan segera ditemukan, baik hidup maupun tak bernyawa.
“Kami semua tadi malam tidak ada yang tidur. Semua berdoa, baca Yasin, berharap apapun kondisinya, hidup atau mati, kami ingin bertemu sama paman kami. Alhamdulillah kami dapat kabar tadi pagi, paman ditemukan selamat,” tutur Yunia sambil mengusap air matanya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here