212, Warga Kalbar ke Jakarta Pakai Duit Sendiri-sendiri

177
SUASANA ISTIQLAL. Kamis (1/12) malam, inilah kondisi Masjid Istiqlal yang menjadi basecamp sementara peserta 212 dan beberapa anggota Hafizh On The Street (HOTS) yang ikut dalam Aksi Bela Islam Jilid III, di Masjid Istiqlal, Jakarta. HOTS for Rakyat Kalbar

eQuator.co.id – Pontianak-RK. Tak ada yang bisa menghalangi muslim membela agamanya. Semua imbauan hingga maklumat tidak bisa memaksa warga Kalbar untuk tidak berangkat ke Jakarta mengikuti aksi gelar sajadah 212 hari ini.

Seperti dilakukan 56 orang pemuda dan masyarakat dari Pontianak Utara. Sejak pagi hingga Kamis malam (1/12), sambung menyambung mereka bertolak ke Jakarta dari Bandara Supadio, Kubu Raya, naik sejumlah flight untuk ikut dalam Aksi Bela Islam jilid III di Monumen Nasional (Monas).

“‪Saya pastikan tidak ada kepentingan politik ataupun ditunggangi siapapun maupun kepentingan lainnya. Kita merasa terpanggil, sebagai umat muslim tergerak untuk melakukan aksi ini,” tutur tokoh pemuda Pontianak Utara, H. Muhammad Fauzi, dihubungi Rakyat Kalbar via seluler, kemarin.

Bersama 56 warga Pontianak Utara, dia memastikan mereka berangkat atas keinginan dan kesadaran pribadi masing-masing. Berada di Jakarta cuma satu sampai dua hari saja dan menginap di kediaman keluarga masing-masing di sana.

“Kita pun menggunakan dana yang dirogoh dari kocek sendiri,” ungkap mantan anggota DPRD Pontianak ini.

Ia juga menepis isu-isu miring yang mengaitkan aksi 212 dengan Pilkada Jakarta. Menurut Fauzi, sebagai warga Pontianak, dia dan rekan-rekannya tak ambil pusing dengan proses pesta demokrasi di Ibukota itu. Aksi gelar sajadah di Monas hari ini adalah istigosah, bertujuan damai dan berdoa untuk keselamatan bangsa.

‪”Jadi ini bukan antara agama dengan agama namun Ahok (tersangka dugaan penistaan agama, Basuki Tjahaja Purnama,red)-nya pribadi. Tentunya aksi ini dilakukan dalam bentuk dan dengan cara sesuai aturan,” tegas pria yang juga ikut Aksi Bela Islam jilid II pada Jumat (4/11) lalu ini.

Fauzi berharap, aksi gelar sajadah ini bisa menjadi pelajaran agar tak ada lagi yang menistakan agama. Ia pun meyakini aksi berjalan damai.

“Karena Islam mengajarkan kedamaian,” pungkasnya.

Senada, Agus Dwi Priyanto. Peserta aksi Bela Islam jilid III yang dihubungi Rakyat Kalbar ini mengatakan tiba di Jakarta Kamis (1/12) siang.

“Saya menginap di Hotel Antara, di Pasar Baru,” ujarnya.

Selain dirinya, akan menyusul belasan warga Kalbar pada Jumat (2/12) pagi. “Saya lagi di hotel sekarang. Di beberapa hotel ramai, jalanan udah mulai padat. Tadi Bandara (Soekarno-Hatta) juga padat,” ungkap Agus.

Hotel tempatnya menginap hanya berjarak sekitar 2 Km dari Monas. Menurut dia, suasana tampak normal dan belum terlihat pengamanan berlebihan. Ia dan sejumlah rekan akan berangkat dari hotel ke Monas selesas Salat Subuh.

“Aman damai, ndak mencekam kok,” tegas pria yang tak terafiliasi dengan Ormas manapun ini.

Agus yang sebelumnya juga ikut Aksi Bela Islam Jilid II meyakinkan bahwa gelar sajadah ini akan berlangsung kondusif. “Kemarin ndak ada yang bisa prediksi, semua kaget juga sebegitu luar biasanya. Kali ini orang tau, udah antisipasi, jadi nggak bakal apa-apa. Namanya jak super damai,” selorohnya.

Warga Kalbar lainnya, Awaluddin Razab saat ini berada di Jakarta. Ia mengatakan dirinya tergabung di dalam Komunitas Hafizh On The Street (HOTS) yang ikut dalam Aksi Bela Islam Jilid III. HOTS yang telah berada di Jakarta terkonsenterasi di Masjid Istiqlal. Berjumlah sekitar 500 orang dari berbagai provinsi.

“Saat ini saya lihat di Istiqlal sudah mulai dipadati peserta aksi dari berbagai daerah,” ujarnya via seluler.

Menurutnya, untuk beberapa rekan dari Pontianak dihubungi menyatakan memang belum berada di Istiqlal namun masih berada di beberapa titik Posko Tanah Abang, Jakarta.  “Sebenarnya ini sederhana dan kita meminta hukum berlaku sama bagi warga negara. Ketika Ahok menistakan agama, tentunya mesti dipenjara,” tegas Awal.

Ia mencontohkan ketika Lia Eden, Gafatar, Kanjeng Dimas, yang juga menistakan agama langsung ditangkap dan dipenjarakan. “Jadi intinya seperti itu, kenapa Ahok tidak ditangkap dan dipenjarakan ketika menistakan agama, bahkan sudah ditetapkan sebagai tersangka dan sudah P21,” tandasnya.

AKSI BELA ISLAM  III DI PONTIANAK

Ketua umum Jaringan Pemuda Remaja Masjid Indonesia (JPRMI) Kalbar, Imam Bukhari SPdI juga memastikan seluruh jaringan remaja masjid yang tergabung bersamanya turun dalam aksi 212 di Pontianak hari ini. Hal ini sejalan dengan sikap pengurus tingkat pusat yang juga memastikan diri ikut serta berdoa dan Jumatan di Monas.

“Kita pastikan turun, tapi nanti malam (1/12) kita koordinasi dulu dengan Ormas lain soal bentuknya seperti apa,” ujarnya.

Sebenarnya, lanjut dia, penanganan kasus penistaan agama yang dituduhkan kepada Ahok telah dipercayakan kepada Kejaksaan Agung (Kejagung). “Namun kita minta harusnya ada perlakuan yang sama antara Basuki Tjahaja Purnama dengan kasus serupa sebelumnya. Kita rindu keadilan yang terlalu mahal di negeri ini,” tutur Bukhari.

Ia mengajak seluruh muslimin memanjatkan doa agar 212 berjalan damai, para peserta maupun aparat yang mengamankan mendapat keselamatan. Bukhari juga menegaskan bahwa kecintaan umat Islam pada negeri ini lebih dari yang orang lain pahami.

“Jadi jangan sampai umat Islam melakukan aksi damai menuntut keadilan malah dinilai anti kebhinnekaan,” tegasnya.

Sementara itu, Polresta dan Pemkot Pontianak melakukan apel bersama dengan TNI yang dipimpin Kapolresta Kombes Iwan Imam Susilo, Kamis (1/12) sekitar pukul 15.00, di markas Polresta. Usai apel bersama yang berkaitan dengan pengamanan aksi 212 di Pontianak dan sekitarnya, sejumlah mobil khusus pengamanan dari kepolisian dan TNI patroli hingga ke ujung kota.

Kapolresta Kombes Iwan Imam Susilo menegaskan, apel bersama bagian dari tanggung jawab pihaknya selaku pelayan, pengayom, dan pelindung masyarakat. Dia pun meluruskan maklumat dari sejumlah otoritas daerah sebelumnya yang meminta masyarakat Kalbar tidak berangkat ke Jakarta mengikuti demonstrasi.

“Tak ada larangan. Di Pontianak sendiri ada yang berangkat, itu tercatat di kita, namun ada pula yang membatalkan. Untuk secara pasti itu ada terdata di intelijen kita, namun tak banyak yang berangkat khusus Kota Pontianak,” ungkapnya. Ia juga menginginkan aksi 212 di Kota Pontianak berjalan damai.

Sependapat dengan Iwan, Komandan Kodim 1207/BS Pontianak, Kolonel Inf. Jacky Ariestanto menyatakan pihaknya mem-backup Polresta. “Intinya kami hanya ingin memberi rasa aman kepada masyarakat,” terangnya.

Sebagai bentuk pemberian rasa aman itu, kata dia, usai apel bersama di Aula Polresta Pontianak, tim gabungan TNI/Polri, Satpol PP, dan Dishub, melakukan patroli keliling kota.

“Dari Kodim ada 40 personil yang tadi berpatroli. Tambahan 1 SST dari Kodam serta diturunkan dua armada Ranpur Anoa,” jelasnya.

Terpisah, Wali Kota Pontianak, Sutarmidji menilai masyarakat, khususnya muslim di Indonesia, sudah sangat dewasa dalam menyikapi pelbagai persoalan. Termasuk agenda zikir dan doa bersama 212 di Jakarta.

“Dan katanya inikan kegiatan yang super-super damai, jangan dikotori dengan hal-hal yang tidak damai,” terangnya usai memberikan sosialisasi pemberdayaan perempuan di Aula Rohana Muthalib, Kantor Bappeda Kota Pontianak, Kamis (1/12).

Meski tidak melarang, pemilik akun Twitter @BangMidji ini menganjurkan masyarakat Pontianak tidak ke Jakarta, cukup memantau perkembangan melalui media massa. “Tapi apapun halnya, kita buat Pontianak ini tetap aman, tetap nyaman, tetap damai,” pintanya.

Sambung Midji, “Insya Allah, kalau yang memimpin ulama, pasti damai”.

Untuk aksi 212 di Pontianak, ia beranggapan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Salat Jumat seperti biasa, seluruh PNS kerja seperti biasa.

“Saya menganggapnya biasa, tidak ada hal yang luar biasa. Apalagi sekarang Ahok kan sudah P21, sudah sampai ke kejaksaan. Biasanya kalau sudah disidang, kepala daerah yang disidang jadi terdakwa, menurut aturannya diberhentikan sementara. Nah kalau sudah divonis bersalah diberhentikan permanen,” papar Midji.

Khusus kepada para aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemkot Pontianak, melarang mereka ikut ke Jakarta. Karena tugas aparat adalah bekerja melayani masyarakat.

“Ngade-ngade jak. Siape yang berani, saye mau tau orangnye. PNS mane yang berani, kau foto jak die ramai-ramai,” tuturnya sambil berlalu.

 

Laporan: Isfiansyah, Iman Santosa, Achmad Mundzirin, Ocsya Ade CP, Fikri Akbar

Editor: Mohamad iQbaL