20 Dirawat, Satu Kritis, Sekadau Kembali Diserang DBD

75
FOGGING. Petugas Dinkes Sekadau melakukan fogging di salah satu rumah warga di Desa Sungai Ringin, Sabtu (26/11). ABDU SYUKRI

eQuator.co.id – Sekadau-RK. Melonjaknya pasien Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Sekadau dalma sebulan terakhir, membuat masyarakat, terutama ibu-ibu resah. Mereka khawatir anggota keluarganya terjanggkit penyakit mematikan itu.

“Cemas juga. Soalnya sudah banyak yang kena,” kata Pah, warga Desa Mungguk, Sekadau Hilir kepada Rakyat Kalbar, Sabtu (26/11).

Keresahan wanita 36 tahun itu bukan tanpa alasan. Dia khawatir anaknya kembali menderita DBD. “Apalagi anak saya pernah kena DBD dua tahun lalu. Mudah-mudahan ndak kena lagi lah,” ujarnya.

Pah mengaku melakukan berbagai hal untuk mencegah DBD. “Siang hari saya biasanya pakai obat nyamuk di rumah. Tapi kita juga harapkan pemerintah bisa melakukan fogging secara menyeluruh,” harap Pah.

Saat ini, wabah DBD kian menggila di Sekadau. Berdasarkan data dari RSUD Sekadau, setidaknya ada 20 kasus DBD yang mereka tangani bulan ini. Hingga Jumah (25/11), dua dari 20 pasien itu masih dirawat. Bahkan satu diantaranya dalam kondisi kritis.

“Pasien itu, pasien dewasa. Sekarang sudah dirujuk ke RSUD Sanggau karena terombositnya turun,” beber Henri Alpius, Direktur RSUD Sekadau, kemarin.

Diakui Henri, sebagian besar pasien merupakan anak-anak. Namun kebanyakan pasien yang ditangani di RSUD masih dalam klasifikasi infeksi virus dengue. Ia mengatakan, hal itu tidak terlepas dari kesadaran masyarakat yang cukup baik untuk mengantisipasi secara dini.

“Jika masyarakat demam, sebaiknya memang memeriksa darahnya untuk memastikan apakah DBD atau bukan. Bisa dicek di pelayanan kesehatan seperti Puskesmas,” ujarnya.

Henry menegaskan, pihaknya terus memantau kejadian DBD tersebut. Apalagi Sekadau pernah menetapkan kejadian luar biasa (KLB) DBD pada 2014 silam. Antisipasi sedini mungkin akan terus dilakukan.

“Masyarakat bisa melakukan menguras, mengubur dan menutup (3M). Tidur menggunakan kelambu dan bisa menggunakan lotion anti nyamuk. Intinya, jika demam jangan dianggap demam biasa. Harus dipastikan apakah DBD atau bukan,” tegas Henry.

Kepala Bidang Penanggulangan Masalah Kesehatan (PMK) Dinas Kesehatan Sekadau, Slamet menegaskan, jajarannya terus berupaya memerangi DBD. “Sudah beberapa kali kita melakukan fogging,” ucap Slamet.

Kemarin, tim dari Dinkes Sekadau melakukan fogging di beberapa tempat di Desa Sungai Ringgin. Langkah serupa juga sudah dilakukan di Desa Mungguk. Dua daerah ini merupakan daerah endemis DBD, karena sudah ada beberapa kasus ditemukan.

Slamet juga meminta masyarakat aktif melakukan upaya pencegahan. Diantaranya menguras, mengubur, menutup tempat atau wadah yang bisa menampung air (3M). Kemudian menaburkan abate pada tempat-tempat yang menjadi sarang nyamuk.

“Jika mengalami peningkatan kasus yang signifikan, maka akan diambil langkah-langkah. Namun, langkah antisipasi harus dilakukan oleh masyarakat untuk mencegah terjadinya DBD,” kata dia.

Untuk mendapatkan abate, masyarakat bisa mengambilnya ke Puskesmas dengan cara berkelompok atau dikoordinir oleh Ketua RT. “Selain itu, pada saat fogging petugas juga menaburkan bubuk abate,” ungkap Slamet.

Kepala Desa Mungguk, Agustami mengimbau warganya agar menjaga kebersihan lingkungan dan selokan. Aparatur desa dalam waktu dekat akan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan dalam menanggulangi DBD.

“Nanti kami juga akan buat surat edaran ke RT, RW untuk waspada terhadap DBD,” tegas Agustami. (bdu)