Mampu Bicara Empat Bahasa Asing Hapal Juzz 30 Alquran

** Aldiansyah Abidzar Gafari, Bocah Jenius dari Ciwedus Tak ada yang berbeda dari Aldiansyah Abidzar Gafari atau akrab dipanggil Onyong. Layaknya anak seusianya, bocah berusia 7

117
Ilustrasi - NET

eQuator.co.id – Agus panther, Kuningan

Tampilnya Onyong sebagai bintang tamu di MTQ ke 43 di Desa/Kecamatan Jalaksana, kemarin (24/2), menjadi pembeda kegiatan yang biasanya hanya diiseremonial tersebut. Onyong, bocah kelahiran Provinsi Papua itu mampu membuat decak kagum siapapun yang mendengarkan lantunan ayat suci Alquran yang dibawakannya dari atas panggung kehormatan MTQ, ditambah lagi langgam dan bacaannya yang pas. Sebagian pengunjung malah terlihat tak mampu menahan rasa kagumnya melihat kepintaran bocah tersebut.

Ya, bocah yang tinggal bersama orang tua angkatnya, Osep Saepudin dan Ade Muhaffilah di Blok Ciwedus, Desa Timbang, Kecamatan Cigandamekar itu benar-benar tampil menggemaskan di atas panggung. Betapa tidak, selain mempertontonkan kemahirannya membaca Alquran, Onyong ternyata juga menguasai empat bahasa asing. Antara lain Arab, Rusia, Inggris, dan Jerman. “Halo apa kabar semua? Nama saya Onyong,” katanya dalam bahasa Rusia yang disambuat aplaus pengunjung MTQ.

Ibu angkatnya, Ade Muhaffilah sama sekali tidak menyangka jika Onyong yang dibawanya dari Papua ketika berusia 4 tahun mempunyai kepintaran yang luar biasa. Padahal proses belajar bahasa asing itu tidak pernah menggunakan guru private namun hanya mengandalkan dari Youtube saja. “Dibanding bahasa asing lainnya, Onyong lebih suka mempelajari bahasa Rusia. Saya sendiri tidak tahu kenapa dia menyukai bahasa Rusia, padahal bahasa Rusia itu rumitnya minta ampun. Abjadnya saja bukan latin, apalagi membaca hurup-hurupnya,” papar yang memilih pensiun dini dari pekerjaannya sebagai PNS sipil di Kodim Timika, Papua tersebut kepada Radar, kemarin.

Ade mengaku mengajari anaknya berbekal video di Youtube saja. Dia juga terpaksa membuka buku pelajaran lagi seperti buku lagi lantaran anak yang disayanginya itu selalu minta diajari bahasa asing. “Saya yang sudah tua ini akhirnya kembali harus membuka buku dan belajar lagi. Awalnya agak sulit mengartikan bahasa Rusia tapi berkat bantuan terjemahan di internet akhirnya bisa juga. Saya mengajarinya satu persatu supaya Onyong tetap ingat dengan materi pelajaran yang diberikan,” terang wanita berjilbab tersebut.

Dia mengutarakan jika pelajaran bahasa Rusia dan bahasa asing lainnya diberikan setelah Magrib dan dilanjutkan dengan mengaji serta pelajaran umum sekolah. Kemudian setelah Ashar, anaknya diminta mengulang kembali hapalan yang diberikan sehari sebelumnya. “Metode yang saya gunakan dalam mengajari Onyong yakni kalau setelah Ashar mengulang hapalan yang diberikan sehari sebelumnya. Nah baru setelah Magrib, membaca dan menghapal kembali pelajaran yang baru. Begitu seterusnya sampai dia hapal semua hapalan. Uniknya, dia cepat sekali mengingat semua hapalan yang diberikan. Terus saya juga punya keinginan untuk mendatangkan psikolog untuk mengecek sejauh mana kecerdasan (IQ) Onyong,” sebut dia.

Satu hal yang membuat Osep dan Ade bangga dan terharu adalah cita-cita Onyong sendiri. Ternyata bocah itu tidak bercita-cita menjadi presiden, politisi, dokter atau guru. “Onyong hanya ingin menjadi ustad, dan jika sudah besar kembali ke Papua untuk menyebarkan Islam. Dia sekarang tidak mau pulang ke Papua, karena ingin menuntaskan cita-citanya menjadi Ustad. Mendengar keinginannya, jujur saya menangis dan terharu. Semoga saja keinginannya itu tercapai dan diridhoi Allah SWT,” kata Ade diamini Osep, pensiunan pegawai BPS Papua dengan suara parau. (*)